IT dan Nilai Tambah Dunia Pendidikan


Artikel yang ditulis oleh Lukis Alam dan dimuat di Harian Umum Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Senin 22 November 2010 pada halaman 20 berikut ini, menurut hemat saya layak dibaca oleh teman-teman yang peduli terhadap perkembangan pendidikan terkait dengan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sebagai salah satu dari sekian banyak guru [pengajar] TIK, saya merasa perlu ikut berpartisipasi menyebarluaskan tulisan ini lewat blog pribadi saya, sekaligus ini sebagai permintaan izin kepada penulisnya.

UTILITAS (pemanfaatan) dan penggunaan teknologi informasi di Indonesia demikian kuat dan sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan sehari-hari. Berbagai jenis gadget elektronik pun sudah biasa kita gunakan, handphone, notebook, mesin ATM dan sebagainya. Saking kuatnya pemanfaatan TI sehingga menjadi hal yang pervasive (melekat) untuk digunakan hampir di semua aspek kehidupan.

Dalam kaitan tersebut yang akan dibicarakan dalam topik ini adalah bagaimana teknologi informasi menjadi value added (nilai tambah) bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi [Red: tidak tertutup kemungkinannya untuk pendidikan di tingkat menengah).

Untuk diketahui, teknologi informasi berkembang hingga saat ini merupakan salah satu keberhasilan perguruan tinggi sebagai pusat research (penelitian). Jika orang di seluruh dunia menggunakan internet dan akrab dengan istilah WWW (World Wide Web), HTML (Hypertext Markup Language) dan HTTP ( Hypertext Transfer Protokol) yang menjadi modal meledaknya internet, merupakan temuan dari Tim Berners-Lee di CERN, sebuah pusat penelitian Fisika di Swiss. Adapun internet sendiri merupakan teknologi yang dikembangkan oleh universitas dan pusat penelitian yang berawal dari proyek departemen pertahanan Amerika Serikat.

Bukan rahasia lagi bahwasannya pemanfaatan teknologi informasi di perguruan tinggi dan lembaga penelitian bukanlah menjadi hal yang asing di luar negeri. Berbanding terbalik jika melihat perkembangan teknologi informasi di Indonesia, ke-identikan teknologi informasi dengan internet baru muncul di Indonesia dalam bentuk komersial dengan munculnya Internet Service Provider (ISP), setelah itu belakangan muncul ide untuk memanfaatkan teknologi informasi di lingkungan perguruan tinggi.

Teknologi Informasi yang dapat digunakan di lingkungan perguruan tinggi salah satunya dengan Campus-Wide Information System (CWSIS). Dengan CWSIS, informasi tentang universitas dan aktivitasnya dapat diakses oleh pengguna internal maupun eksternal. Informasi tersebut dapat bervariasi mulai dari berita seputar perkembangan kampus, kegiatan belajar-mengajar yang dapat dikemas dalam aplikasi Learning Management Systems (LMS), repositori mata kuliah, aktivitas penelitian, sampai data alumni. Singkatnya, CWIS dapat membantu proses sebelum pendaftaran mahasiswa, menunjang proses belajar mengajar serta penelitian (termasuk catatan kuliah dan penugasan serta menyediakan kontak antara dosen dan mahasiswa), sampai mahasiswa lulus. Jika di masa lampau dimana internet belum sebooming sekarang, untuk mencari makalah atau literatur harus pergi ke perpustakaan.

Nah, sekarang klik saja internet, disana akan dijumpai online journal, seperti di IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) dan ACM (Association for Computing Machinery). Kedua institusi ini mengembangkan digital library sehingga bisa diakses oleh para membernya. Berbagai jenis karya tulis, mulai dari jurnal, majalah, proceeding bisa diakses secara online.

Dikarenakan perguruan tinggi sebagai pusat penelitian, tidak ada salahnya mengembangkan penelitian berbasis teknologi informasi. Misalnya, Genome Research Bioinformatics, dimana ukuran data yang besar dalam penelitian genome memaksa peneliti untuk mengembangkan database yang dapat mengakomodasi data tersebut dengan efisien, disamping itu kolaborasi untuk menganalisa data-data tersebut juga menggunakan bantuan komputer yang terdistribusi di seluruh dunia via internet. Disamping itu tentang green computing, bagaimana efisiensi teknologi komputer yang ramah lingkungan dan sebagainya. Sebagai pertimbangan, institusi perguruan tinggi juga perlu menghitung nilai investasi dari penggunaan produk teknologi informasi dan manfaat apa saja yang bisa dihadirkan. Barangkali bisa dikuantisasi atau di-ekivalenkan dalam bentuk uang (rupiah), konsep ROI (Return On Investment) bisa menjadi gambaran jika penerapan teknologi informasi juga memperhitungkan nilai investasi. Sehingga dengan konsep ROI akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Di antaranya, seberapa besar nilai tambah (value added) yang diperoleh dalam implementasi teknologi informasi tersebut? Lalu, apakah nilai tambah akan lebih besar dari nilai investasi?, Apakah implementasi teknologi informasi di perguruan tinggi menjadikan lebih unggul dari perguruan tinggi kompetitor (saingan)?.

Yang terakhir menjadi perbincangan cukup ramai di kalangan perguruan tinggi adalah adanya perdebatan dua kubu model pengembangan dan lisensi software. Di antaranya closed source (proprietary) dan open source. Biasanya perdebatan ini dikaitkan dengan sistem operasi Microsoft Windows yang tertutup dan komersial melawan sistem operasi Linux yang terbuka dan gratis. Sebenarnya dengan adanya perbedaan kubu ini memberikan kesempatan dan pilihan kepada mahasiswa dan dosen untuk melakukan eksplorasi tanpa perlu terpaku kepada satu model saja, sehingga nantinya perlu adanya pelatihan intensif guna mendukung pengembangan kedua model ini. ( Lukis Alam) – g

Sumber:

HU Kedaulatan Rakyat, Senin 22 November 2010, halaman 20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s